BlabOctober 23, 2009 2:51 am

Sepertinya, setelah sekian lama tidak menulis, jari jemari saya tidak tahan akhirnya untuk bergerak dan menuangkan apa yang ada di kepala. Apalagi setelah memperhatikan tren yang sudah cukup lama marak namun tetap menganggu.

Di era foto dengan prosesor digital atau nama kerennya digicam, kamera-kamera baik yang berukuran kecil maupun SLR semakin terjangkau. Kondisi ini membantu semakin menjamurnya pengguna jejaring Facebook yang ingin unjuk gigi kebolehannya dalam seni fotografi.

Lalu, menurut pengamatan saya pribadi, banyak mereka pengguna SLR atau digicam canggih yang memilih nama “Random” sebagai judul album foto. Setelah berbulan-bulan mengamati isi album-album Randoms tersebut, saya akhirnya mendapat satu kesimpulan. Cermati baik-baik.

Nama Random dipilih sebetulnya lebih untuk pengampunan dan pujian. Mengapa demikian?
Oke, misalnya si Z mengabadikan sesuatu yang kualitas komposisi fotonya secara keseluruhan (maaf) sampah. Si V yang melihat foto ini bisa seketika memaklumi. Oh ya gpp, ini kan memang album Random.
Sebaliknya, misalnya si Z mengabadikan sesuatu yang kualitas komposisi fotonya baik atau sangat baik, maka bobot kebaikan foto itu akan menjulang setidaknya 2 kali lipat. Kenapa bisa begitu?
Karena si V akan berpikir, “Wah hebat ya si Z, foto random aja bisa begini….”

Hebat bukan?

Kesimpulan di atas semakin saya percaya seiring dengan semakin banyaknya foto-foto sampah yang dihasilkan dari kamera DSLR diberi label pemaklum Random.
Jangan salah, saya sendiri pun punya sebuah album yang saya namakan Random, sudah dibuat sejak tahun 2006 yang lalu dan pada kenyataannya album ini memang saya ramaikan dengan foto-foto yang tidak jelas alias Random, inipun menggunakan kamera ala kadarnya. Misalnya seperti foto lapciong (Sosis Cina) di kawasan Pecinan Toronto atau foto televisi yang memutar video karaoke Skid Row namun dengan artis Hong Kong di dalamnya. Jadi memang sesuatu yang tidak ada juntrungannya dan tidak bisa dimasukkan ke kategori-kategori spesifik lainnya.

HK Skid Row
Gambar diambil dari “Random Gallery” Facebook pribadi.

Mengapa tidak membiasakan untuk melabel sesuatu sesuai dengan isinya? Random seharusnya sesuatu yang bersifat asal, acak, kurang jelas dan lain sebagainya. Bukan sebagai fasilitas pengampunan hasil karya. Dengan “strategi” tadi, justru kita akan mematikan proses belajar, karena apa pun yang dimasukkan ke dalam keranjang random dianggap sesuatu yang lumrah jika buruk atau luar biasa jika fotonya baik.

Untuk apa latah beli DSLR dan membuat foto album berjudul Random?
Demikian unek-unek saya.

BlabJanuary 6, 2009 10:30 pm

Terhitung sejak hari Senin lalu, ada sesuatu pemandangan yang begitu membahagiakan hati. Area yang cukup besar tepat di lantai atas di mana air mancur di Eaton Centre berada kini sudah lega.
Kosong melompong.
Jika aku coba untuk melihat waktu ke belakang sejenak, area ini tadinya ditempati oleh sebuah pohon natal yang megah menjulang ke atas. Begitu berkilau dihiasi batu-batu kristal Swarovski. Di sekelilingnya, hingga hari Minggu kemarin, lautan manusia mengitarinya dan simpang siur di bawahnya, seperti sedang berziarah ke sebuah monumen sakral.

Mereka semua berdesakan. Mereka mengatur hati-hati langkah mereka masing-masing, agar tidak menabrak atau tertabrak. Dan.. tidak lupa mereka harus waspada, apakah beberapa langkah di depan mereka ada orang yang sedang berpose dan bersiap untuk difoto atau tidak di depan pohon besar itu?

Hari demi hari. Semakin hari mendekat ke perayaan Natal, semakin buas para mahkluk hidup yang berkunjung ke tempat ini. Insting binatang mereka serasa dibangkitkan kembali, untuk menyabet diskon-diskon yang digelar seluruh gerai di pusat belanja ini.
Di lain sisi, banyak dari mereka merasakan tekanan luar biasa. Karena mereka belum siap dengan hadiah untuk orang-orang yang mereka sayangi.

Antrian panjang yang pertama kali kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri lebih 10 tahun lalu di Jakarta ketika orang mengantri bahan-bahan pokok; kini terulang. Namun, mereka mengantri untuk membayar apa yang sudah mereka genggam di tangan mereka masing-masing. Dengan sabar mereka menunggu. Langkah demi langkah. Semakin dekat ke mesin kassa. Sambil berpikir dalam hati. Apa yang berikutnya harus kubeli?
Aku berpikir.. berapa kali mesin kartu debit dan kredit tergesek?
Berapa kali sang pramuniaga menanyakan apakah sang konsumen ingin dibuatkan bon hadiah?

Kursi-kursi tempat pusat makanan seperti tidak pernah kosong. Semua menyemut di sana setelah lapar dan habis tenaga karena belanja dan mengantri dengan manis.

Mayoritas orang-orang Asia seperti biasa berlaku seperti jemaat yang menaati khotbah pemuka agamanya dengan beramai-ramai menenteng kantong belanja dari Hollister atau Abercrombie. Tidak ketinggalan Aritizia untuk para wanitanya.

Seluruh potongan kejadian ini kuamati dengan seksama mulai dari awal November ketika pohon besar itu masih ditutupi dengan kain, hingga hari Minggu terakhir sebelum pohon itu ‘pensiun’ awal tahun ini.

Ya.. memiliki lokasi kantor begitu dekatnya dengan salah satu pusat belanja terbesar di Toronto memang ada baik dan buruknya. Tapi di saat musim libur seperti kemarin, aku justru merasa kurang nyaman.
Aku bukan seorang pembenci perayaan. Aku hanya muak dengan lautan manusia yang tiada habisnya.

Akhirnya… hari Senin kemarin.. mataku lega.
Lalu lalang manusia juga telah menyurut.
Walau toko-toko masih tidak rela kehilangan para pengunjung begitu saja dengan berlomba (berpura-pura) ‘menurunkan’ harga barang. Tapi tampaknya para manusia sudah kehilangan nafsu, atau tepatnya kekurangan dana untuk memuaskan nafsu belanja mereka.
Kini… mereka harus memutar otak, bagaimana untuk membayar tagihan yang membengkak hasil bulan lalu?
Ya.. menggesek kartu memang mudah. Tapi menghilangkan angka-angka itu, akan ada satu episode sendiri untuk menghilangkannya.

Aku, sedang menikmati episodeku sendiri. Episode indah tentang merayakan sebuah perayaan yang telah usai.

BlabJanuary 1, 2009 11:35 pm

Tahun 2008 hanya tinggal 6 hari lagi umurnya. Aku menghela nafas ketika terlintas di benakku bahwa tahun ini berlalu begitu cepat. Mengapa setiap kali kita memandang beberapa tahun yang ada di depan, aku terdiam sejenak dan berpikir dalam hati kalau waktu itu akan datang masih lama. Tetapi ketika aku sampai di titik sekarang, aku merasa segalanya telah melintas begitu cepat.

Rasanya, aku tidak pantas berbuat apa pun selain bersyukur. Bersyukur karena aku merasa tahun ini salah satu tahun terkuat untukku. Tahun ini memanglah kelanjutan dari paruh akhir tahun 2007. Tahun di mana aku akhirnya memiliki pekerjaan “sungguhan” yang cukup stabil. Dan dari sinilah, aku memiliki sebuah poros. Poros untuk mewujudkan impian-impian kecilku yang sejak bertahun-tahun lamanya sering kupendam. Namun, sedikit demi sedikit aku kabulkan sejumlah pintaan-pintaan hati dan batinku .

Seringkali aku melamun dan teringat masa lalu. Masa di mana aku merasa apakah aku akan sampai “di sana”? Sekarang memang aku pun belum sampai pada tujuan akhirku, tapi aku merasa aku sudah melangkah lebih jauh menuju impian-impianku. Aku sering memejamkan mata dan berpikir “Ah gila… betapa berbedanya hidupku sekarang dengan 5 sampai 7 tahun ke belakang” Kini aku bisa sedikit merasakan sebuah kedamaian dan aku bisa perlahan meletakkan rencana-rencanaku selanjutnya.

Mungkin tahun ini adalah tahun yang kuanggap sebagai tahun pembebasan bagi diriku. Tahun di mana aku bersikeras pada diriku sendiri untuk melakukan apa pun yang akan membahagiakan diriku, dalam batasan non-desktruktif tentunya.
Singkat cerita, ini adalah salah satu tahun terbaik selama 25 tahun.
Mulai dari pekerjaan yang relatif stabil, petualangan ke beberapa negara dan kota, realisasi memiliki mainan-mainan baru dan tentunya selalu diberkati dengan teman-teman terbaik!

Memang, sebagai seorang manusia, tentunya tidak akan pernah puas. Aggap sajalah hal ini menjadi tugas tahun berikutnya. Ketika orang bertanya, apa resolusi aku tahun depan? Sejujurnya, aku kurang pandai menjawabnya. Resolusi selalu menjadi ucapan tanpa realisasi untukku, setidaknya itu yang sering kurasa. Jadi lebih baik, simpan baik-baik rencana yang ada dan berusaha sebisa mungkin untuk mencapainya.

Selamat tahun baru untuk semua. Semoga tahun depan yang telah didaulat sebagai tahun penerus segala kesulitan yang terjadi di tahun 2008 bisa kita lewati dengan lancar. Dan untuk seluruh kawan-kawanku terhormat, mari.. kita punya 365 hari lagi untuk berkarya.

“The only way to save our dreams is by being generous with ourselves”
Paulo Coelho, The Pilgrimage


Cabbagetown, Toronto
25 Desember 2008

UncategorizedDecember 16, 2008 12:52 am

Uuuh.. entah suaranya kini masih terus terngiang di kupingku. Terima kasih untuk kawanku yang mengenalkan si penyanyi luar biasa ini. Tak hanya suaranya yang begitu merdu, empuk dan menghanyutkan emosi, tapi lirik-liriknya begitu dalam.
Mungkin aku sudah beberapa kali mengungkapkan kalau aku bukanlah seorang pemerhati lirik musik. Tapi aku begitu ingin mengetahui apa yang ada di dalam lagu-lagu Rachael Yamagata…

Apa yang ada tertuang dalam lagu-lagu yang begitu sedih ini? Sejujurnya, aku pun belum berani menginterpretasikan secara bulat apa yang betul-betul ia maksud.

Namun ketika aku melihatnya di atas panggung jumat malam kemarin. Aku benar-benar melihat seorang sosok yang berdiri melantunkan apa yang pernah ia alami. Rasanya tak mungkin orang yang tak pernah mengalami kesedihan atau kepahitan yang begitu dahsyat mampu menulis lagu seperti ini dan membawakannya dengan penuh nyawa.

Salah satu pesannya sebelum ia menutup konsernya adalah…
“I hope everyone will find their soulmate and have a great sex for the rest of their lives”

BlabDecember 14, 2008 10:58 pm

Kala kita diinjak-injak atau disepelekan, seringkali kita merasa ingin sekali untuk membalas dendam. Apalagi jika kita di posisi yang lebih membutuhkan, misalnya wawancara kerja.
Hal ini yang saya sendiri alami beberapa minggu lalu ketika pergi wawancara dengan salah satu bank terbesar di Kanada. Berkat bantuan kawan saya yang baik hati, resume saya diberikan kepada si manager yang katanya sedang mencari tenaga tambahan.

Dengan berbekal pengalaman lebih dari 1 tahun di Fidelity dan harapan akan berpenghasilan lebih baik dari yang sekarang, akhirnya saya berangkat ke tempat tujuan. Dan seperti biasa, sebelum berangkat ke sana, harus diawali terlebih dahulu dengan “Mission Impossible”.
- Bangun pagi buta dan berangkat sepagi mungkin ke tempat kerja
- Usai kerja lebih pagi
- Meluncur ke rumah kawan untuk mengganti pakaian yang lebih formal demi wawancara kerja.
- Baru meluncur ke tempat wawancara akan berlangsung.

Setibanya di sana, dengan perasaan yang cukup waswas apakah bisa menguasai jalannya wawancara, saya memasuki lift dan akhirnya tiba di lantai yang dimaksud, 15 menit lebih awal. Setelah menteror telpon orang yang menghubungi saya untuk datang wawancara selama 15 menit lamanya dan mondar mandir gelisah akhirnya ia muncul dan mempersilahkan saya masuk.

Tak lama wawancara berjalan dan hanya butuh 2 menit untuk saya menilai kalau saya tidak ingin bekerja di tempat ini. Mereka begitu angkuh menyudutkan pekerjaan saya yang saat ini tidak hubungannya dengan akuntansi dan belum menyelesaikan gelar saya. Sungguh, saya belum pernah dihina seburuk itu dalam hidup saya. Mungkin saya masih terlalu baik tidak segera beranjak dan keluar dari ruangan. Saya hanya bertanya dalam hati, jika saya memang tidak memenuhi kriteria mereka, untuk apa saya dipanggil? Dan saya katakan pelan kepada salah satu pewawancara, “Saya sudah lama tidak duduk di bangku kuliah dan jika anda bertanya hal seputar akuntansi, saya dengan jujur katakan, saya kemungkinan besar tidak bisa menjawab”

Dalam 20 menit ke depan, gempuran pertanyaan terus menghujam dan saya hanya menjawab enteng dan sebisa saya. Saya sudah tidak menargetkan apa-apa, terlebih ketika ia menanyakan apakah saya tertarik dengan pekerjaaan yang sifatnya kontrak. Ibarat hubungan seksual, libido mati seketika.
Seusai keluar dari ruang wawancara, salah satu manager masih mengejar-ngejar saya apa betul saya digaji dengan angka yang saya minta ke mereka. Ah.. sungguh tidak etis manusia edan ini, menanyakan penghasilan kok di depan pegawai-pegawai lain. Entah dungu atau memang tidak punya etika.

Aku terus mengumpat dalam hati ketika wawancara berakhir dan aku berbincang sejenak dengan seorang kawan yang kebetulan sedang istirahat kerja. Ia yang meneruskan resume-ku. Aku ungkapkan kekesalanku dan lenyapnya minatku untuk bekerja di situ.

Lalu aku meluncur ke rumah teman baikku yang selalu menyediakan “markas” ketika aku butuh ganti baju dan bersiap-siap “perang” ke medan wawancara kerja. Di sana pun aku seperti begitu belum puas meluapkan betapa kesalnya aku hari itu dihina. Aku diberi nasehat dan ucapan-ucapan untuk menenangkan amarahku oleh ibu dari kawanku.
Setelah itu, aku pulang dan terus mengisi paru-paruku dengan udara segar agar lebih tenang. Ya sudahlah, masih ada jalan yang lain, jalan memang berliku.


Lebih dari satu minggu kemudian. Teleponku bergetar dan terpampang nama orang yang dulu memanggil dan mewawancaraiku. Langsung wajah menjadi asam dan emosi meluap seketika. Ia berbicara di telepon begitu sopan dan menanyakan apakah saya ada pertanyaan. Langsung saya angkat bicara “Sejak wawancara kemarin, saya sudah tidak ada ketertarikan bekerja dengan perusahaan anda” Lalu ia berujar semoga saya sukses dalam proses pencarian kerja berikutnya.
Entah.. aku begitu lega ketika bisa “menembak” si bajingan itu dengan sepotong kalimat itu. Biar ia tahu kalau saya sudah tidak ada minat lagi untuk berurusan dengan ia dan perusahaannya sementara ini.

Keesokan harinya, telepon terus menerus bergetar dan nama yang keluar adalah nama bank tersebut. Ah, mau apalagi?! Terus menerus menelpon berkali-kali setiap harinya dari Rabu hingga Jum’at. Saya sudah tidak tertarik! Dan saya enggan mengangkat telepon.

===

Hari Sabtu kemarin, sang kawan yang kerja di bank itu menelpon saya. Dia menanyakan kenapa saya tidak mengangkat telepon saat ia menelpon saya berkali-kali. Oh.. ternyata itu kawanku yang menelpon! Tetapi, ada apa gerangan? Rupanya, pihak bank tersebut meminta ia untuk membujuk saya agar menerima tawaran dari mereka. Coba.. sebentar dulu… tawaran??? Tawaran apa? Tawaran kerja rupanya. Dengan seketika, hati saya begitu senang. Saya telah menampar mereka dengan telak. Saya tolak mentah-mentah ketika ia pun belum sempat membuka moncongnya untuk menawarkan saya pekerjaan. Dan walaupun tawarannya menggiurkan pun, saya sudah final, saya tidak ingin bekerja dengan manusia-manusia sombong itu!

Mungkin, tidak pernah dalam mimpi terburuk mereka sekalipun kalau mereka ditolak mentah-mentah setelah sewenang-wenang dalam proses wawancara. Aku bukan mereka yang datang wawancara untuk mengemis bekerja. Aku punya integritas dan aku sudah tahu apa yang aku inginkan dalam pekerjaan. Jika saya anggap apa yang mereka tawarkan tidak menarik diri saya untuk pindah atau bekerja dengan mereka, kenapa pindah?
Mereka sudah terbiasa berhadapan dengan pelajar-pelajar yang baru selesai kuliah dan mendambakan kerja, dan mereka bisa tekan para wisudawan ini seenak-enaknya dan membayar dengan pas-pasan. Nampaknya taktik mereka salah alamat dan kaget ketika saya tolak apa pun tawaran mereka.

Semoga ini jadi pelajaran bagi mereka untuk tidak lagi petantang petenteng saat mewawancarai kandidat. Wawancara bukan ajang mengemis si kandidat, tapi juga ajang si perusahaan untuk membuat tempat bekerja tersebut atraktif.

Ah.. tidak ada hal lain yang lebih memuaskan ketika apa yang kita dambakan tercapai. Dan kali ini, mereka menerima pelajaran. Dan hal ini membuat saya tersenyum terus di dalam hati tanpa henti.

Dan tentunya hal ini tidak akan menghentikan saya untuk terus berjuang di hari-hari berikutnya.

Selamat malam Cabbagetown.

BlabNovember 28, 2008 3:36 am

Mungkin terlalu pendek durasinya.
Tapi tiada yang terlalu pendek ketika aku harus meredakan pikiran di kepala ini yang belakangan sedang kalut.
Hari kedua hampirlah selesai.
Berguna?
Sedikit sekali.
Pikiran itu terus melintas tiada hentinya.
Aku letih.
Saatnya menutup mata.
Selamat malam San Diego.

Blab, MusicNovember 24, 2008 11:51 pm

I really thought I was okay
I really thought I was just fine
But when I woke this time
There was nothing to take me back to sleep
To take you off my mind
This time

Over and over and over and over again
Let it rain, let it rain I need to hide within the storm
So have the ending come
And bring the winds that scream
And spill the fog all over town
And break through every door
And strip away the tree
And raise the rivers high
Just help me drown
And hold me in your standstill ground
I will sink down
And you’ll be washed away
You’ll be washed away

From:
Rachael Yamagata - Over & Over

UncategorizedOctober 8, 2008 6:01 pm

Rumah, seperti apapun wujudnya, nyaman, menyeramkan, pengap, dan banyak deskripsi lain menurut standar masing-masing adalah tempat kita berlindung. Memang rumah tidak membuat kita kebal akan segala sesuatu di dunia fana ini tetapi manusia akan begitu sulit tanpa kehadiran sang “papan”.

Hal yang paling ingin kutuju setelah melalui segala kegiatan dan perjalanan mental selama 1 hari adalah rumahku. Walau secara teknis tempat yang kudiami sekaran bukanlah milikku tetapi yang kumaksud adalah aku ingin segera kembali ke pondokanku dan beristirahat sejenak. Walau dalam hitungan beberapa jam aku sudah harus kembali beranjak dari kasurku yang empuk dan siap membuaiku ke alam mimpi, tetapi aku sungguh menikmati waktu yang demikian singkat ini.

Di sinilah kita bisa lari sebentar dari “pertempuran hidup” yang kita harus ikuti setiap hari. Kita bisa menghela nafas dan menenangkan pikiran sambil menyusun strategi untuk perang berikutnya.
Di sinilah kita belajar hidup dari orang tua kita atau kelak kita akan mengajari anak-anak kita.
Di sinilah kita menyimpan benda-benda kesayangan dan sesuatu yang memiliki arti khusus melebihi sesuatu yang dapat kita nilai dengan uang.
Di sinilah kita menangis, kita tertawa, kita menderita, kita bahagia; pintu, tembok dan langit-langit di rumah seakan menjadi saksi bisu perjalanan hidup kita. Namun mereka tak akan pernah ikut menangis saat kita bersedih atau saat kita pindah rumah atau tertawa saat kita merayakan kelulusan atau kenaikan pangkat.

Rumah, untuk hampir seluruh manusia merupakan sebuah pencapaian yang kelak harus dimiliki. Aku pun berpikir demikian. Entah berapa lama ke depan, aku ingin mulai berangsur memiliki uang yang cukup untuk membeli atapku sendiri kelak. Agar tidak selamanya uangku melayang untuk membayar uang sewa kontrakan.
Tapi, aku rasa langkah yang sekarang kutempuh sah saja, agar merasakan juga seperti apa sulitnya hidup hingga harus menyewa dulu kamar di sebuah rumah sebelum memiliki rumah. Tentunya tidak semudah tinggal di Pondok Mertua Indah atau tinggal minta rumah dari orang tua; tapi aku yakin seyakin-yakinnya kelak nanti saat aku bisa membeli dengan keringat dan darahku sendiri pasti akan terasa puas dan sangat bangga.

Kini “rumahku” demikian kecilnya, aku berdiam di sebuah kamar yang sudah sesak dengan barang-barangku yang sebagian besar adalah buku dan majalah. Ah, justru di saat merasakan kesesakan seperti ini aku tambah berangan ke depan seperti apa besarnya rak buku yang akan kubeli nanti saat aku memiliki rumahku sendiri.

Ah sekarang… tak perlu terlalu memusingkan di mana kuberdiam, yang penting aku bisa merasa nyaman dan bisa terus melakukan segala hal yang perlu kutempuh untuk mencapai mimpi yang berikutnya.

Kini izinkan aku berbaring santai sambil membaca buku-buku yang sudah menjerit minta dibaca sejak berbulan-bulan lalu.

Selamat sore Cabbagetown.

Blab, MoviesSeptember 14, 2008 12:15 am

Brengsek!
Biarkan saja aku mengumpat!
Ya lagi-lagi.. brengsek!

Sudah-sudah.. mari sedikit tenang dan mari pasang topeng kalem dan sopan sedikit.

Entahlah, dalam 2 hari ini, uang saya sudah ambles 60 dollar untuk “hiburan” yang tidak perlu.
Pertama, dengan begitu berseri-seri dan semangatnya saya dan kawan-kawan saya berangkat menonton liga football kanada; dengan alasan utama “Belum pernah lihat ni.. pengen nonton”.
Ternyata pengalamannya sungguh kurang menyenangkan, rasanya seperti ditabok ketika melihat Toronto Argos main begitu buruknya dan dibantai 38-6 oleh Winnipeg Bluebombers.

Hari berikutnya, dengan perasaaan dag dig dug dan sudah diwanti-wanti dari satu minggu sebelumnya bahwa film yang akan kami tonton ternyata jelek. Kampret! Tapi ya sudahlah, namanya tiket sudah dibeli. Tapi ya betul saja, filmnya hancur tidak karuan. Entah saya yang ga ngerti seni atau gimana.. haduh.. pokoknya saya pusing. Pasti mau tahu kan filmnya apa? Saya ga mau sebut ah.. pokoknya cukup saja saya bilang film anak bangsa yang diputar di Toronto International Film Festival 2008.

Ah.. saat-saat seperti ini, saya jadi rindu dengan hiburan gratis mengamati gerak-gerik manusia di facebook.
Ya sudah… saya akhirnya capek menggerutu.

BlabAugust 6, 2008 12:26 am

Kadang, aku suka bertanya pada diri sendiri. Mengapa hal bodoh bisa membuatku begitu terperanjat dan juga menghibur? Terlebih hal bodoh yang dihasilkan dari perilaku manusia. Terlebih lagi, tingkah laku manusia yang sedang berusaha keras agar dianggap sesuatu yang tidak biasa.

Aku terlalu mudah dibuat bahagia oleh tindak tanduk para poser (palsuwan, ehm.. itu pun jika kata itu ada?). Entahlah untukku tindakan mereka untuk memukau orang lain itu terlampau menggelikan. Apalagi ini kan hiburan gratis, jadi ya sah-sah saja kalau saya rajin mengamati sang palsuwan ini.

Di dalam alam pikirku, aku tahu betul betapa keras usaha beliau agar terbersit sebuah pemikiran di dalam angan orang lain bahwa ia sungguh keren. Tapi justru inilah puncak hiburannya! Justru ini yang sangat kunikmati! Aku sungguh menikmati upaya-upayanya tersebut yang justru menurutku malah membuatnya kelihatan seperti manusia dungu. Hahahahaha.

Ah… memang. Lagi-lagi aku kembali ke pertanyaanku yang terlalu sering diulang. Tuhan, mengapa kau begitu kreatif? Terlalu kreatif.

Akhir kata, adalah sebuah pertanyaan untuk siapa pun yang membaca tulisan ini.

Mengapa manusia berusaha keras agar terlihat bandel? Dan apakah usaha untuk meraih kesan ini harus (atau selalu) berakhir dengan diri mereka kelihatan tolol?

Tak dijawab pun tak apa. Saya tak pernah punya payung cantik untuk dibagi-bagikan.

Selamat malam Toronto.