BlabDecember 14, 2008 10:58 pm
Kala kita diinjak-injak atau disepelekan, seringkali kita merasa ingin sekali untuk membalas dendam. Apalagi jika kita di posisi yang lebih membutuhkan, misalnya wawancara kerja.
Hal ini yang saya sendiri alami beberapa minggu lalu ketika pergi wawancara dengan salah satu bank terbesar di Kanada. Berkat bantuan kawan saya yang baik hati, resume saya diberikan kepada si manager yang katanya sedang mencari tenaga tambahan.
Dengan berbekal pengalaman lebih dari 1 tahun di Fidelity dan harapan akan berpenghasilan lebih baik dari yang sekarang, akhirnya saya berangkat ke tempat tujuan. Dan seperti biasa, sebelum berangkat ke sana, harus diawali terlebih dahulu dengan “Mission Impossible”.
- Bangun pagi buta dan berangkat sepagi mungkin ke tempat kerja
- Usai kerja lebih pagi
- Meluncur ke rumah kawan untuk mengganti pakaian yang lebih formal demi wawancara kerja.
- Baru meluncur ke tempat wawancara akan berlangsung.
Setibanya di sana, dengan perasaan yang cukup waswas apakah bisa menguasai jalannya wawancara, saya memasuki lift dan akhirnya tiba di lantai yang dimaksud, 15 menit lebih awal. Setelah menteror telpon orang yang menghubungi saya untuk datang wawancara selama 15 menit lamanya dan mondar mandir gelisah akhirnya ia muncul dan mempersilahkan saya masuk.
Tak lama wawancara berjalan dan hanya butuh 2 menit untuk saya menilai kalau saya tidak ingin bekerja di tempat ini. Mereka begitu angkuh menyudutkan pekerjaan saya yang saat ini tidak hubungannya dengan akuntansi dan belum menyelesaikan gelar saya. Sungguh, saya belum pernah dihina seburuk itu dalam hidup saya. Mungkin saya masih terlalu baik tidak segera beranjak dan keluar dari ruangan. Saya hanya bertanya dalam hati, jika saya memang tidak memenuhi kriteria mereka, untuk apa saya dipanggil? Dan saya katakan pelan kepada salah satu pewawancara, “Saya sudah lama tidak duduk di bangku kuliah dan jika anda bertanya hal seputar akuntansi, saya dengan jujur katakan, saya kemungkinan besar tidak bisa menjawab”
Dalam 20 menit ke depan, gempuran pertanyaan terus menghujam dan saya hanya menjawab enteng dan sebisa saya. Saya sudah tidak menargetkan apa-apa, terlebih ketika ia menanyakan apakah saya tertarik dengan pekerjaaan yang sifatnya kontrak. Ibarat hubungan seksual, libido mati seketika.
Seusai keluar dari ruang wawancara, salah satu manager masih mengejar-ngejar saya apa betul saya digaji dengan angka yang saya minta ke mereka. Ah.. sungguh tidak etis manusia edan ini, menanyakan penghasilan kok di depan pegawai-pegawai lain. Entah dungu atau memang tidak punya etika.
Aku terus mengumpat dalam hati ketika wawancara berakhir dan aku berbincang sejenak dengan seorang kawan yang kebetulan sedang istirahat kerja. Ia yang meneruskan resume-ku. Aku ungkapkan kekesalanku dan lenyapnya minatku untuk bekerja di situ.
Lalu aku meluncur ke rumah teman baikku yang selalu menyediakan “markas” ketika aku butuh ganti baju dan bersiap-siap “perang” ke medan wawancara kerja. Di sana pun aku seperti begitu belum puas meluapkan betapa kesalnya aku hari itu dihina. Aku diberi nasehat dan ucapan-ucapan untuk menenangkan amarahku oleh ibu dari kawanku.
Setelah itu, aku pulang dan terus mengisi paru-paruku dengan udara segar agar lebih tenang. Ya sudahlah, masih ada jalan yang lain, jalan memang berliku.
—
Lebih dari satu minggu kemudian. Teleponku bergetar dan terpampang nama orang yang dulu memanggil dan mewawancaraiku. Langsung wajah menjadi asam dan emosi meluap seketika. Ia berbicara di telepon begitu sopan dan menanyakan apakah saya ada pertanyaan. Langsung saya angkat bicara “Sejak wawancara kemarin, saya sudah tidak ada ketertarikan bekerja dengan perusahaan anda” Lalu ia berujar semoga saya sukses dalam proses pencarian kerja berikutnya.
Entah.. aku begitu lega ketika bisa “menembak” si bajingan itu dengan sepotong kalimat itu. Biar ia tahu kalau saya sudah tidak ada minat lagi untuk berurusan dengan ia dan perusahaannya sementara ini.
Keesokan harinya, telepon terus menerus bergetar dan nama yang keluar adalah nama bank tersebut. Ah, mau apalagi?! Terus menerus menelpon berkali-kali setiap harinya dari Rabu hingga Jum’at. Saya sudah tidak tertarik! Dan saya enggan mengangkat telepon.
===
Hari Sabtu kemarin, sang kawan yang kerja di bank itu menelpon saya. Dia menanyakan kenapa saya tidak mengangkat telepon saat ia menelpon saya berkali-kali. Oh.. ternyata itu kawanku yang menelpon! Tetapi, ada apa gerangan? Rupanya, pihak bank tersebut meminta ia untuk membujuk saya agar menerima tawaran dari mereka. Coba.. sebentar dulu… tawaran??? Tawaran apa? Tawaran kerja rupanya. Dengan seketika, hati saya begitu senang. Saya telah menampar mereka dengan telak. Saya tolak mentah-mentah ketika ia pun belum sempat membuka moncongnya untuk menawarkan saya pekerjaan. Dan walaupun tawarannya menggiurkan pun, saya sudah final, saya tidak ingin bekerja dengan manusia-manusia sombong itu!
Mungkin, tidak pernah dalam mimpi terburuk mereka sekalipun kalau mereka ditolak mentah-mentah setelah sewenang-wenang dalam proses wawancara. Aku bukan mereka yang datang wawancara untuk mengemis bekerja. Aku punya integritas dan aku sudah tahu apa yang aku inginkan dalam pekerjaan. Jika saya anggap apa yang mereka tawarkan tidak menarik diri saya untuk pindah atau bekerja dengan mereka, kenapa pindah?
Mereka sudah terbiasa berhadapan dengan pelajar-pelajar yang baru selesai kuliah dan mendambakan kerja, dan mereka bisa tekan para wisudawan ini seenak-enaknya dan membayar dengan pas-pasan. Nampaknya taktik mereka salah alamat dan kaget ketika saya tolak apa pun tawaran mereka.
Semoga ini jadi pelajaran bagi mereka untuk tidak lagi petantang petenteng saat mewawancarai kandidat. Wawancara bukan ajang mengemis si kandidat, tapi juga ajang si perusahaan untuk membuat tempat bekerja tersebut atraktif.
Ah.. tidak ada hal lain yang lebih memuaskan ketika apa yang kita dambakan tercapai. Dan kali ini, mereka menerima pelajaran. Dan hal ini membuat saya tersenyum terus di dalam hati tanpa henti.
Dan tentunya hal ini tidak akan menghentikan saya untuk terus berjuang di hari-hari berikutnya.
Selamat malam Cabbagetown.